Simalungun, Fokus24.id-Langkanya pupuk bersubsidi di Nagori Boluk Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun membuat sejumlah petani resah, Senin (24/01/2022).

Alhasil, sejumlah petani meminta kepada Histony Sijabat selaku pengusaha kios pupuk di Nagori itu segera mendistribusikan pupuk bersubsidi segera mungkin,

"Sampai hari ini kami resah karena kelangkaan pupuk. Sudah pernah kami sampaikan kepada Histony agar mendistribusikan pupuk bersubsidi, namun belum ditanggapi." Kata Yono (39) mengaku petani di Nagori itu.

Ia juga mengakui, meskipun pupuk langka, namun pada tanggal tertentu setiap bulannya, sedikitnya 3 truck Mitsubishi Colt Diesel berisi pupuk ditafsir mencapai 10 ton, selalu masuk ke gudang milik Histony,

"Terkadang aneh, setiap bulan selalu ada minimal tiga truck masuk ke gudang milik Histony. Ditafsir berat muatan berisi pupuk 10 ton." Kata pria bertubuh kurus itu kepada Fokus24.id.

Sisi lain, seorang petani mengaku bernama Andi (45) mengungkapkan, kalau kios pupuk Histony juga menjual pupuk subsidi seperti Urea secara eceran,

"Apakah boleh pupuk subsidi di jual secara eceran. Tapi di kios si Hsitony bisa dijual pupuk urea bersubdisi secara eceran." Ungkap Andi kepada Fokus24.id.

Terkait itu, ia berharap agar Pemkab Simalungun menyelidiki kios pupuk milik Histony Sijabat,

"Kalau tidak percaya, ke kiosnyalah. Lihatlah nanti, pasti ada petani membeli pupuk urea kiloan kemasan bertuliskan pupuk bersubsidi. Mohon kepada Pemkab Simalungun agar menyelidiki kios pupuk Histony Sijabat." Bilangnya.

Kepadanya, ketika ditanya selain pengusaha, apa pekerjaan Histony Sijabat, pria berbadan tegap itu menjawab pengusaha itu anggota DPRD di Kabupaten Simalungun,

"Semua kenal dia bang, masak gak kenal. Dia Anggota DPRD Simalungun Dapil Kecamatan Bosar Maligas. Dialah pengusahanya, tapi istrinya yang sering menjaga usaha kios pupuk itu." Beber Andi 

Terpisah, pantauan disekitar kediaman Histony Sijabat, tertulis sebuah plang yang menempel didinding rumahnya "UD Bohal Tani".

Untuk menuju ke gudang pupuk miliknya, Fokus24.id harus melintasi gang di samping rumahnya yang berjarak 50 meter.

Kira kira berjalan 3 menit melewati gedung sekolah dasar, akhirnya sampai disebuah bangunan berdinding batu bata tidak bercat dan pintunya terbuat dari besi berwarna coklat muda dibalut lis coklat tua.

Dikonfirmasi, seorang wanita paruh baya mengaku Boru Purba membenarkan bahwa kios tersebut benar milik mereka,

"Bapaudamunya suamiku. Gimana cerita tentang interpelasi 17 DPRD itu. Apa tanggapanmu tentang Udamu. Kalau dia memang vokal dikalangan DPRD." Ucapnya mengawali percakapan.

Menimpali percakapan itu, Fokus24.id kemudian mempertanyakan bagaimana sebenarnya tentang kelangkaan pupuk di Nagori Boluk, apa penyebabnya, wanita paruh baya itu lalu menjawab,

"Memang langka sekarang pupuk. Taulah kau, sekarang harus bayar dulu kepada distributor baru pupuk diantar kemari (Kios Pupuk)." Jawabnya. 

Disinggung, jika pupuk langka, mengapa setiap bulan minimal 3 truck Mitsubishi Colt Diesel mengangkut pupuk ditafsir beratnya 10 ton selalu masuk ke dalam gudang miliknya, lantas wanita itu kemudian menjawab,

"Kita kan punya pengangkutan. Jadi yang diangkut itu pupuk milik kios yang lain." Jawabnya lagi yang terkesan mengelak.

Kembali ditanya untuk memastikan, jika benar truck miliknya sebagai pengangkut pupuk pesanan kios lainnya, mengapa diturunkan di gudang milik mereka, ia pun menjawab, 

"Itu pupuk milik kios lain yang memesan kepada kita." Ujarnya.

Dipertanyakan mengenai informasi bahwa mereka menjual pupuk subsidi secara eceran dan memang saat dikonfirmasi beberapa warga sedang membeli pupuk urea bersubsidi dengan eceran, ia menjawab,

"Bisanya dijual secara eceran. Tapi kalau aturan pemerintah sebenarnya gak diperbolehkan." Ucapnya menjawab.

Soal harga, apa perbedaan subsidi dengan normal sementara kemasan pupuk yang dijual secara eceran kemasannya tertulis pupuk bersubsidi, Boru Purba tersebut menjawab, 

"Kalau harga bersubsidi kepada petani dijual seharga Rp150 ribu. Namun untuk harga eceran Rp550 ribu." Ungkapnya.

Untuk diketahui, perbedaan harga eceran dengan subsidi dengan kemasan bertuliskan pupuk bersubsidi, keuntungan perkarung pupuk bisa mencapai Rp400 ribu.

Terkait kios pupuk tersebut, sampai berita ini terpublikasi, Histony Sijabat belum berhasil dikonfirmasi.